Sabtu, 16 Juni 2012



Kajian Dongeng “Batu Kerbau” dengan Menggunakan Pendekatan Analitis
pendekatan analitis adalah suatu pendekatan yang berusaha membedakan dan memahami elemen-elemen yang membangun karya sastra itu sendiri.
Menurut Dewi, (2010: 59) “pendekatan analitis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasanya, elemen intrinsic dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsic itu sehingga mampu membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.”
1.1  Tema
Tema adalah ide yang terkandung dalam sebuah cerita, serta yang menjadi landasan cerita tersebut. Menurut Sumardjo dan Saini K.M (dalam Zebua, 2011: 8) mengatakan:
Tema adalah ide sebuah cerita. Pengarang dalam menulis ceritanya bukan mau sekedar bercerita, tetapi mau mengatakan sesuatu pada pembacanya. Sesuatu yang mau dikatakannya itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau komentar tentang kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semuanya didasari oleh ide pengarang tersebut.

Nurgiyanto (dalam Zebua, 2011: 8) mengatakan “Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, ridu, takut, maut, religius, dan sebagainya. Dalam hal tertentu, sering tema dapat disinonimkan dengan ide atau tujuan utama cerita”.
Adapun tema dari dongeng “Batu Kerbau” adalah perasaan emosi yang berdampak buruk pada aktifitas di lingkungan.
Pernah suatu hari Si Pahit Lidah berjalan di tepi sungai Batang Merangin dan berniat untuk berteduh di sebuah pondok milik warga, namun ketika pemilik pondok mengetahui bahwa Si Pahit Lidahlah yang  mampir ke pondoknya, maka bergegaslah pemilik pondok itu pergi masuk ke hutan. Takut kalau-kalau Si Pahit Lidah akan mengutuknya menjadi batu. (Dongeng ‘Batu Kerbau’).

Di perjalanan ia bertemu dengan dua ekor kerbau, yaitu induk kerbau dan anak kerbau yang sedang mandi, dengan perasaan dongkol yang masih menyelimuti hatinya, Ia pun mengutuk dua ekor kerbau tersebut menjadi batu, maka bertambah yakinlah warga sekitar bahwa Si Pahit Lidah dapat mengutuk apa pun menjadi batu sehingga dapat membahayakan mereka, bahkan tak jarang para warga akan menghindar jika bertemu dengan Si Pahit Lidah. (Dongeng ‘Batu Kerbau’)
 
1.2  Tokoh
Tokoh dapat menyampaikan ide pengarang melalui cerita, kegiatan tokoh dan peristiwa yang terjadi di sekitar tokoh.
Abrams (dalam Zebua, 2011: 11) menyatakan “Tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan”.
Setiap tokoh memiliki watak atau karakter sendiri. Penyajian watak tokoh ini oleh pengarang dapat melalui penggambaran sifat-sifat tokoh, hasrat, pikiran, perasaan, atau dengan menyisipkan komentar mengenai sifat- sifat tokoh itu. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut dengan penokohan.

Selasa, 24 April 2012

Kisah Batu Kerbau di Dusun Baru Desa Air Batu tentunya kita tidak asing dengan Kisah Si Pahit Lidah, dan ternyata tentunya kita tidak asing dengan Kisah Si Pahit Lidah, dan ternyata

Tentunya kita tidak asing dengan legenda Si Pahit Lidah. ternyata si Pahit Lidah memiliki jejak di Desa Dusun Baru Air Batu, Merangin, Jambi.  Bahwasanya Si Pahit Lidah terkenal akan kutukannya yang mampu mengubah apapun menjadi batu, sehingga tak sedikit orang-orang menjauh darinya dikarenakan takut kalau-kalu Si Pahit Lidah akan mengutuk mereka. Dalam perjalanan pulangnya ke sumidang, di Batang Merangin Ia bertemu dengan dua ekor kerbau yaitu induk dan anak kerbau yang sedang mandi. Karena dongkol dengan sikap orang-orang di sekelilingnya, maka Si Pahit Lidah berkata
"Wahai engkau kerbau, tahu kah kau bahwa aku sedang marah. maka jadilah kau batu"
sehingga dua ekor kerbau tadi menjadi batu, hingga saat ini batu itu dapat dilihat ketika Batang Merangin sedang surut.

Minggu, 15 April 2012

Jejak

seperti inikah takdirku
tak ada hujan disaat mendung
yang mampu datangkan pelangi rindu disetiap kerdip mataku
begitu keruhkah jejakku
hingga tak kutemukan bunga-bunga bermekaran saat semi berburu cinta

perlahan segalanya menyita wajah-wajah penari cakrawala
dan waktu kian merobek rasa
sementara aku masih sendiri

Penari Cakrawala, 28 Januari 2012